Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mendingan Ganti Puasa Wajib, atau Lanjut Puasa Syawal? Begini Panduannya

Gambar diolah dari Anna Larin dari Pixabay 

Tak disangka, Ramadan telah berlalu dan bulan Syawal telah tiba. Walaupun masih dalam suasana pandemi covid-19, agaknya semangat juang beribadah umat Islam tetap membuncah dan membahana.

Lalu, bagaimana dengan keberadan kue lebaran di rumah. Masih ada? Rasanya kalau masih ada hawa-hawa hari raya, kue lebaran masihlah tersedia. Tambah lagi dengan adanya pembatasan silaturahmi, mungkin sedih hati sanak dan kerabat di tanah rantau masih terdengar.

Meski demikian, tak mengapalah. Mendahulukan keselamatan diri merupakan prioritas utama untuk tetap sehat. Dan terpenting, saat ini kita masih diberikan kesempatan untuk beribadah. Bulan Syawal, loh!

Ya, meskipun bulan mulia bernama Ramadan sudah berlalu, kita masih punya bulan mulia lain yang bernama Syawal. Kenapa kok mulia, apa karena bulan Syawal adalah musim kawin? Memang, selain disunnahkan menikah di bulan Syawal, kita juga sangat dianjurkan untuk berpuasa.

Tepatnya puasa 6 hari di bulan Syawal. Lah, padahal kita kan sudah puasa full 30 hari di bulan Ramadan, kok perlu tambah lagi? Bagus, loh. Coba simak hadis berikut ini:

“Allah menjadikan satu kebaikan bernilai sepuluh kali lipatnya, maka puasa sebulan senilai dengan puasa sepuluh bulan. Ditambah puasa enam hari setelah Idul Fitri membuatnya sempurna satu tahun” (HR. Ibnu Majah no. 1402, dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no.1402 dan Shahih At-Targhib no. 1007).

Keren, kan? Puasa selama 6 hari di bulan Syawal seiras dengan puasa sempurna selama satu tahun. Tambah lagi dengan kebaikan-kebaikan lain yang mengitarinya. Kapan lagi kita bisa memaksimalkan bulan yang penuh nikmat ini. Eh, tunggu. Ada dalil berikutnya, loh:

“Pahala puasa Syawal seperti puasa setahun penuh. Karena satu kebaikan senilai dengan sepuluh kebaikan. Puasa Ramadan sebulan senilai dengan sepuluh bulan, dan puasa 6 hari senilai dengan dua bulan (60 hari)” (Syarah Shahih Muslim, 8/56).

Sejatinya, kebaikan yang diikuti oleh kebaikan lainnya menunjukkan bahwa telah ada perubahan pada diri seorang hamba. Misalnya setelah puasa Ramadan selama 30 hari, apa perubahan/kebaikan yang didapat. Bukan sekadar sehat, kan?

Tentu saja, mungkin di bulan Ramadan kita sering bangun malam untuk Tahajud, sering salat Rawatib, sering baca Qur’an, serta dengan ceramah di waktu-waktu lapang. Lalu, bagaimana dengan hari ini?

Baca Juga: Refleksi Dark Joke Fizi, "Surga di Telapak Kaki Ibu, Bagaimana Bila Tak Punya Ibu?"

Kalau kita kembali malas dalam beribadah, artinya kebaikan yang kita lakukan di bulan Ramadan kurang berefek, kan? Bisa jadi demikian. Rugi kiranya jika kita tak memaksimalkan kesempatan yang baik ini.

Sekarang sudah tanggal 4 Syawal, barangkali sudah banyak teman-teman yang Start duluan untuk berpuasa Syawal. Apakah saya ketinggalan?

Ohh, tak masalah. 6 hari puasa Syawal bisa ditempuh dengan cara berurutan atau pun tidak berurutan. Jumhur ulama tak mempermasalahkannya. Yang jadi masalah adalah, kapan kita akan memulainya? Atau, malah belum tahu niat dan bagaimana caranya? 

Tata Cara Puasa Syawal


Gambar dari plknyk via freepik.com
Tidak jauh berbeda dengan puasa Ramadan serta puasa Sunnah lainnya, puasa Syawal juga dimulai dengan niat. Ya, segala sesuatu tergantung pada niatnya.

Mau dilafazkan, silakan. Mau niat dalam hati, juga silakan. Bedanya, kalau puasa Syawal niatnya boleh dilakukan setelah fajar. Lafaz niatnya:

“Nawaitu shauma ghodin ‘an sittatin min syawwalin sunnatan lillahi taala.”

“Aku berniat puasa enam hari Syawal sunnah karena Allah Taala.”

Seperti yang sudah disampaikan di atas, untuk memulai puasa Syawal bisa kapan saja dan tidak mesti harus berurutan harinya. Hanya saja, diutamakan untuk dimulai di awal waktu bulan Syawal sebagai perwujudan dari semangat beribadah.

Terang saja, yang namanya kebaikan tidak perlu kita tunda-tunda, kan? Tambah lagi saat ini suasananya masih dalam serangan pandemi, agaknya umat muslim tidak terlalu sibuk keluar jajan sana dan jajan sini.

Puasa Syawal ini sebenarnya malah mengasyikkan bagi mereka yang sudah berkeluarga. Ya, bisa sahur bareng, buka puasa bareng, serta saling mengingatkan untuk senantiasa menambah ibadah. Tapi, bagi yang masih sendiri dan ngekost, sama saja sih. Segala ibadah pasti menyenangkan.

Mendingan Mengganti Puasa Wajib, atau Langsung Puasa Syawal?


Gambar diolah dari Дарья Яковлева dari Pixabay 
Nah, ini ada sebuah permasalahan yang biasanya dihadapi oleh kaum perempuan. Perempuan kadang bingung karena tidak sedikit dari mereka yang bolong-bolong puasanya. Ya, datangnya masa haid alias menstruasi menyebabkan perempuan harus mengganti puasa wajibnya.

Dilansir dari Very Well Health, lama menstruasi yang normal berlangsung antara 3-7 hari. Sementara itu, siklus menstruasi normal rata-rata terjadi setiap 21-35 hari. Artinya, ada juga sebagian perempuan yang full puasa Ramadannya. Beruntunglah perempuan tersebut.

Hanya saja, bukan berarti perempuan yang puasanya tidak full di bulan Ramadan menjadi sial. Terang saja, Allah selalu memberikan kemudahan dalam beribadah. Sesuai dengan tuntunan QS Al-Baqarah ayat 184, setiap puasa Ramadan yang bolong wajib untuk diganti.
  
“Maka (wajib penggantian) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat untuk menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin. Lebih baik barangsiapa dengan kerelaan hati membantu kebajikan, maka lebih baik membantu, dan puasamu lebih baik bagimu jika kamu mengerti.”

Selama para perempuan masih sehat, masih bugar, dan masih muda, sangat baik untuk mereka segera menggantinya juga dengan puasa. Kapan puasa ganti (Qadha’) itu dimulai? Lebih cepat lebih baik. Perempuan bisa memulainya di bulan Syawal.

Nah, sama halnya dengan laki-laki, kaum perempuan tentunya juga ingin mendapatkan kebaikan dan pahala dari puasa Syawal.

Tapi, jika kita sandingkan mana yang lebih utama antara puasa Syawal dengan puasa ganti, maka diutamakan bagi perempuan untuk mengganti puasa Ramadannya terlebih dahulu. Mengapa? Tentu saja, karena yang wajib lebih tinggi kadarnya dibandingkan yang Sunnah.

Hal ini didasarkan oleh salah satu Fatwa Imam Ibnu Utsaimin tentang wanita yang memiliki utang puasa ramadhan, sementara dia ingin puasa Syawal.

Jika seorang wanita memiliki utang puasa ramadhan, maka dia tidak boleh puasa syawal kecuali setelah selesai qadha. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadan, kemudian dia ikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal…”. Sementara orang yang masih memiliki utang puasa ramadhan belum disebut telah berpuasa ramadhan. Sehingga dia tidak mendapatkan pahala puasa 6 hari di bulan syawal, kecuali setelah selesai qadha. (Majmu’ Fatawa, 19/20).

Tapi, para perempuan tak perlu khawatir dan cemas dengan fatwa ini. Menurut Ustadz Adi Hidayat, ketika seseorang berpindah ke amalan yang lebih tinggi, maka amalan rendah akan ikut pahalanya.

Misalnya ada seorang perempuan yang membayar utang puasa di bulan Syawal. Karena utang puasa lebih tinggi amalannya alias wajib, maka insya Allah dengan niat tulusnya, kebaikan yang ada pada bulan Syawal akan mengalir kepadanya.

Memang, di sisi lain ada pula ulama yang menyebutkan bahwa seorang perempuan boleh untuk puasa Syawal meskipun ia belum bayar utang puasa wajib. Keringanan ini didasarkan oleh hadis Aisyah yang pernah mengganti puasa di bulan Sya’ban.

Hanya saja, satu hal yang perlu diingat dan juga disampaikan oleh UAH, belum tentu kita punya kesempatan umur untuk mengganti puasa wajib di hari esok.

Bayangkan jika esok kita meninggal dan belum bayar utang puasa. Mau mengganti pakai apa? Maka dari itu, mendahulukan sesuatu yang wajib lebih diutamakan. Wallahua’lam bissawab.

Baca Dikit: Perkenalkan, Inilah TikTok yang Menjadi Pemutus Urat Malu Manusia!

Salam.
Ditulis oleh Ozy V. Alandika

Posting Komentar untuk "Mendingan Ganti Puasa Wajib, atau Lanjut Puasa Syawal? Begini Panduannya"