Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Trio "RRI", Inspirasi Pelajar Muda Pecinta Tilawah Qur'an

Dokumentasi Pribadi


Hari ini, kesempatan belajar Qur’an begitu lapang. Guru mengaji, banyak. Video mengaji di Youtube maupun media sosial, banyak. Dan anak-anak muda yang sudah pandai tilawah Qur’an juga banyak.

Jujur saja, kesempatan dan peluang yang seperti ini sungguhlah hebat. Bukti kehebatannya? Lihat saja ada berapa banyak anak-anak cilik yang hafal Qur’an, sudah tidak bisa lagi kita hitung dengan jari.

Meski demikian, nyatanya tidak semua anak-anak muda peka dengan kesempatan ini. Teknologi yang sudah hebat-hebat ini malahan kalah dengan gengsinya anak muda. Gengsi apa? Ya, gengsi untuk malu belajar Qur’an.

Buktinya? Lihat saja, kebanyakan anak-anak muda di SMP dan SMA umum lebih cinta dengan urusan dunia daripada belajar Qur’an. Saat mereka dites baca Qur’an, kedengarannya seperti mobil yang ngadat. Sepertinya harus dikembalikan ke IQRO’ 1.

Situasi seperti ini sangat miris kiranya, padahal kita sudah memasuki fase akhir zaman. Fase di mana fitnah-fitnah dajjal sudah tampak dan bertebaran, dan fase di mana Qur’an mulai  menjadi sesuatu yang agak asing untuk dibaca para generasi muda.

Tapi, tetap kita jangan terlalu khawatir. Meski banyak anak muda yang sudah lemah dengan Qur’an, banyak pula di antara mereka yang masih peduli dan istiqomah mencintai Qur’an.

Salah satunya adalah murid-murid yang saya sebut trio RRI. Bukan Radio Republik Indonesia, melainkan Rafli, Reyhan dan Ilham. Ketiga pria muda ini telah saya temukan di salah satu SMP favorit di Curup.

Mereka, menurut saya sudah layak menjadi teladan bagi teman-temannya. Terlebih lagi karena ini sekolah umum, tentu saja susah mencari sosok anak muda yang mencintai tilawah Qur’an. Baiklah, mari kita kenalan satu per satu.

R = Rafli

Nama lengkapnya, Rafli Ramadhan. Saya temukan dia saat mendapat jatah mengajar di kelas 7 SMP. Sosoknya pendiam, tidak banyak ulah namun ramah dan berani saat dimintai pendapat.

Rafli sendiri telah mengencangkan egonya untuk lebih dekat dengan saya, bergabung bersama ekstrakulikuler Remaja Islam Masjid dan Seni Baca Qur’an. 2 bidang ini, saya yang membina sekaligus ingin mencari sosok pelajar muda yang mau diajak istiqomah.

Beruntungnya, Rafli ini memiliki mental dan keteguhan hati yang sangat kuat. Di saat teman-temannya mulai meninggalkan esktrakulikuler bertajuk keagamaan dan Qur’an, ia tetap istiqomah untuk belajar dan mendalami Qur’an. Salah satu yang ia sukai, adalah tilawah Qur’an.

2 tahun terakhir saat eskul Seni Baca Qur’an masih aktif, Rafli selalu hadir untuk berlatih dan mendalami Qur’an. Mungkin, itulah sebabnya mengapa ia mulai mencintai Qur’an, karena ia sendiri yang mendekati Qur’an. Sungguh, Rafli adalah sosok pemuda hebat yang pernah saya kenal.

R = Reyhan

Reyhan, lengkapnya Reyhan Harri Sandi Manurung. Ya, namanya cukup panjang dan semoga saya yang lemah ini tidak salah dalam menulis namanya. Hehehe

Tidak jauh berbeda dengan Rafli, Reyhan juga sosok pemuda yang sangat baik. Ia patut dicontoh ketika kita berkisah tentang sebuah ketulusan. Reyhan adalah orang yang tulus dan ikhlas dalam membantu. Di beberapa kesempatan dan kesempitan, ia selalu mau membantu.

Reyhan juga tergabung dalam Esktrakulikuler Remaja Islam Masjid dan Seni Baca Qur’an. Saya juga mengenalnya hampir bersamaan waktu dengan Rafli.

Dibandingkan dengan Rafli, sosok Reyhan cenderung lebih naik sedikit kadar keributannya. Hehe. Reyhan cukup aktif dalam berbicara, dan ia juga pandai menyampaikan tajuk-tajuk humor. Tak mengapalah, setiap orang juga butuh kehadiran sebuah humor, termasuk saya.

Saat ini, Reyhan juga sudah duduk di kelas 9 SMP. Bersama dengan Rafli, ia selalu hadir dalam pelajaran Baca Qur’an yang saya gelar. Mulai dari awal, perlahan-lahan dan kemudian ia cinta dengan Qur’an.

Khusus di bidang tilawah Qur’an, dalam satu tahun terakhir saya menangkap ada ciri khas tersendiri dari suara Reyhan. Ia memiliki cengkok yang khas saat melantunkan maqam Nahawand tingkat Jawabul Jawab.

Secara pribadi, saya meyakini bahwa jika Reyhan ingin dan istiqomah mengasah cengkok itu, suatu saat ia bisa jadi salah satu teladan tilawah Qur’an. Saya percaya, ia pasti ingin menggapai itu. Lagi, saya termasuk orang yang beruntung telah mengenal sosok Reyhan ini.

I = Ilham
Namanya saja Ilham, lengkapnya Ilham Agung Pangestu. Mau diartikan dengan masing-masing kata saja sudah bagus, apalagi diartikan secara keseluruhan. Semoga saja nama ini benar-benar menjadi harapan dan doa tulus untuk Ilham sendiri.

Lagi-lagi tidak terlalu jauh dengan Rafli dan Reyhan, Ilham juga sosok pelajar muda yang baik. Dibandingkan Rafli dan Reyhan, Ilham cenderung lebih semangat dan aktif ketika bersua dengan teman-temannya. Tapi, di saat sendiri ia malahan tampak kusut dan galau. Entahlah!

Ah, saya juga tidak terlalu ingin membahas tentang kegalauannya. Mungkin ia sering kesepian di kost-an, atau sedang rindu dengan seseorang. Hahaha

Saya mengenal Ilham sudah 3 tahun, tepatnya sejak ia duduk di kelas 7 SMP. Dulu, tampilannya lumayan polos dan saya kira Ilham akan tetap jadi sosok yang paling pendiam. Tapi sekarang? Ternyata ia lebih dari apa yang saya duga. Pembaca, silahkan nilai sendiri.

Biarpun demikian, Ilham juga sosok pemuda yang rajin dan tulus dalam membantu. Biarpun ia tidak selalu hadir di Eskul RISMA dan SBQ yang saya bina, bukan berarti kita bisa mengecapnya sebagai pemuda yang kurang istiqomah.

Nyatanya jika kita berbicara soal Qur’an, Ilham termasuk sosok pemuda yang serius dalam mendalami dan menghayati. Terutama di bidang tilawah Qur’an. Ia berani tampil dan mencoba nada-nada tingkat tinggi.

Meskipun saat latihan tilawah Ilham suka malas bernapas (alias napasnya pendek), ia juga memiliki ciri khas dan cengkok nada tersendiri. Jika Rafli terkesan memiliki nada yang tinggi dan lurus, Reyhan memiliki nada mendayu, maka Ilham memiliki alunan yang menggoyang.

Saya sempat mendengar lantunan irama lembut Ilham saat ia azan, dan saya yakin itu adalah cengkok khas dirinya.

Memang beruntung saya sempat mengenal Trio RRI ini. Saat mereka bersemangat, saya tambah bersemangat. Saat mereka sudah mulai hebat, saya merasa mulai tertantang. Mungkin, di masa depan, ketiga pemuda ini bisa jadi akan jauh lebih hebat dari saya. Itulah kebanggaan.

Semoga tulisan ini menginspirasi semua, terutama bagi anak-anak muda dan para orangtua di luar sana. Memang, penting untuk menjadikan seorang anak berprestasi dan berilmu. Tapi, jangan lupa dengan Qur’an. Karena mencintai Qur’an adalah kewajiban, dan itu mendamaikan.

Saat seseorang mencintai Qur’an, saat itu pula mereka telah mencintai sekaligus dicintai Allah SWT. Hal ini sesuai dengan kalam Allah dalam QS Ali Imran ayat 31:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Semoga kita tetap istiqomah mencintai Qur’an dan masuk ke surganya Allah SWT. Aamiin
Salam.

Posting Komentar untuk "Trio "RRI", Inspirasi Pelajar Muda Pecinta Tilawah Qur'an"