Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Bulan Merah

pixabay.com

Saat jeritan malam telah tiba
Malam yang begitu sunyi berubah seketika
Berubah menjadi teriakan dan tangisan tak berdosa

Merahnya malam itu
Hingga padu pada bulan purnama
Bulan merah memanggilku dengan jeritan sedunya
Terpanggillah diriku untuk bunga cintaku

Saatku berpijak, melangkah menelusuri kota
Saat diriku pulang, bunga cintaku telah layu
Dirimu yang menantikan cintaku kembali
Memeluk diriku erat, meski kau tlah jadi mawar merah

Ku bawa kau pergi kembali
Tak peduli lagi, diriku telah membendung lautan
Jeritanku pun tak tersampaikan
Hingga malam tak berujung, sunyi kembali

Kembali menelusuri kota bersama bunga cintaku
Segalanya terhenti di tengah perjalanan
Tepat di tengah, sejenak timah panas merasuki, waktu terasa lambat
Menjadikan sepasang bunga mawar berdekap mesra

Hingga akhir, ku beri cinta kasihku pada bunga tercintaku
Hingga akhir kau menunggu, hanya untuk diriku seorang

Hanya untuk diriku seorang
Hanya untuk dirimu seorang
Sayangku yang terkasih
Kasihku yang tercinta
Cintaku kan sampai akhirnya tiba

Wahai bulan merah, apakah ini benar adanya?

Oleh: Dinda Nurfatihah Jannah

Posting Komentar untuk "Puisi - Bulan Merah"