Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Betapa Pentingnya Menjadi Sahabat Bagi Diri Sendiri

pixabay.com


“Berharap kepada manusia itu....”
 “Menghampakan!”

Sahabat, kadang beberapa orang mendefinisikannya sebagai sosok yang lebih dari sekadar teman dan hampir setara dengan keluarga. Atau, boleh jadi sahabat merupakan salah satu bagian dari keluarga, namun tidak sedarah.

Definisi ini boleh-boleh saja, karena setiap orang juga berhak memiliki sahabat. Selama? Tidak mengecewakan, ya!

Sontak saja, dalam setiap lika-liku kehidupannya seseorang mulai sering berbagi dengan sahabat. Berbagi kisah sedih, kisah duka, kisah sendu, hinggalah kisah bahagia.

Sesekali, karena sudah terlalu dekat dengan sahabat, tidak sadar lagi bahwa yang diceritakannya adalah aib. Memang, selama keburukan yang sudah diceritakan tidak menyebar ke dunia nyata kita masih dalam kondisi aman-aman saja. Tapi, jika sebaliknya?

Kisruh dan konflik dengan sahabat akan segera terjadi. Pilihannya hanya dua, sahabat minta maaf, atau hubungan cukup sampai di sini.

Tapi, jika sudah dan terlanjur sakit hati maka pemutusan hubungan sebagai sahabatlah yang menjadi solusi. Di saat tangisan mulai menderu dan menggebu, di saat itu pula kita baru sadar bahwa berharap kepada manusia itu sungguh menghampakan. Walau ia sahabat sekalipun!

Akhirnya? Ya sudah, kemarin juga terlanjur cerita, kan? Mau bilang apa lagi. Walau mulut seorang yang tadinya dianggap sahabat segera ditutup, toh lidah mereka tak bertulang dan jari-jarinya bisa terus menggelitik di media sosial. Kita yang tambah sakit, kan!

Sahabat? Ya, Dirimu Sendiri
pixabay.com

Belajar dari pengalaman, belajar dari kenyataan dan kisah-kisah pilu agaknya mulai saat ini kita bisa menata kisah pribadi. Terang saja, walaupun suatu hari kita akan bercerita ini dan itu, kegundahan ini dan itu, belum tentu sahabat bisa memberikan solusi.

Yang ada, beberapa sahabat malah membuat kesal dan menjadikan kegundahan kita bertambah. Yang ada lagi, sahabat malah kabur atau diam tanpa kata. Lalu, apa gunanya?

Paling-paling, gunanya bercerita sedih-perih hanyalah mendapat kelegaan. Sama halnya dengan berteriak di tanah lapang, bercerita alias curhat juga bisa melegakan walau tanpa solusi.

Namun, untuk meminimalisir kekecewaan bukankah lebih baik kita tidak bercerita terlalu dalam dengan sahabat? Tentu saja, kecewanya orang dewasa itu lebih sakit daripada kena tonjok di kepala. Rasanya begitu membekas, bahkan bisa dibawa hingga mati.

Ini bahaya, dan bahaya ini bisa ditalangi dengan cara membatasi diri. Agaknya cara terbaik adalah menjadikan diri sendiri sebagai sahabat dalam mengarungi kehidupan.

Terang saja, apapun motivasi orang, apapun kata orang, ujung-ujungnya hanya diri sendirilah yang lebih mengerti dan paham situasi. Diri sendiri sebagai sahabat bisa menata bagaimana solusi dan jalan terbaik, tentu saja dengan pertimbangan-pertimbangan dan pengalaman.

Pertimbangan inilah yang kiranya akan menjadikan seseorang lebih kuat dan hebat dalam mengarungi kehidupan. Kuat mental, mantap pemikiran dan mampu melewati masalah.

Dan, jika masalahnya terasa besar dan berat?

Solusi terbaik adalah curhat kepada Allah. Berbagi keluh kesah dan menguatkan diri dengan doa hanya kepada Allah merupakan jalan mulus untuk berjauh diri dari kecewa.

Makin sering dekat dengan Allah, perlahan makin sering pula bertumbuh syukur dan sadar dengan betapa banyaknya karunia yang telah Allah berikan. Inilah tujuan terpenting dari curhat. Semoga kita tidak salah arah.
Salam

Posting Komentar untuk "Betapa Pentingnya Menjadi Sahabat Bagi Diri Sendiri"