Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bercermin dari “2Lia”, Perempuan Muda yang Mencari Kata "Istiqomah"

Ilustrasi Pribadi

Istiqomah itu berat, memang benar karena nyatanya yang ringan adalah istirahat. Sebagian atau mungkin semua orang bisa saja menjadi baik dalam sekejap, tapi apakah kebaikan itu akan bertahan?

Orang itu sendirilah yang mampu menjawabnya. Bertahan atau tidak, salah satunya adalah pilihan hidup seseorang. Masuk surga atau tidak, salah satunya juga pilihan hidup seseorang. Perihal ini tidak bisa dibantah, karena sejatinya takdir itu dijalani, bukan hanya diterima.

Lalu, apakah pilihan untuk istiqomah dalam kebaikan ini harus bergantung dengan nominal usia? Beberapa bulan yang lalu, aku pernah berdebat dengan seorang perempuan di saat kami mengulik topik hijrah.

Katanya, hijrah itu nanti saja menunggu tua. What! Aku berpikir, apa iya usia kita akan bertahan sampai tua? Wallahua’lam. Hanya Allah yang tahu ketetapan hidup dan mati seseorang.

Maka darinya, hijrah itu bisa dilakukan kapan saja. Kalau perlu, sekarang juga. Tidaklah perlu menunggu tua, karena tantangan hijrah bukanlah soal berubah, melainkan tentang istiqomah.

Lagi, berbicara tentang istiqomah di usia muda, rasanya perihal ini cukup berat. Terang saja, setan makin banyak dan tantangan kehidupan begitu sulit. Hari ini zamannya fitnah, yang benar dianggap salah dan yang salah dianggap benar.

Namun, bukan berarti mereka yang muda-muda tidak mampu untuk istiqomah. Aku punya dua rekomendasi perempuan muda yang hingga hari ini terus berusaha untuk mencapai istiqomah. Namanya, kuberi singkatan 2Lia alias Aulia dan Emilia. Kita bahas satu per satu, ya!

2Lia – Aulia

Aulia Nursyarifah - Dokpri

Nama lengkapnya Aulia Nursyarifah, kira-kira begitu dan semoga aku tidak salah sebut. Hehehe. Aku mengenalnya sudah jelang 3 tahun ini, semenjak dia mendaftarkan diri untuk bersekolah di salah satu SMP favorit di Curup.

Sedikit mengulik perangai, Aulia adalah sosok perempuan muda yang cukup paham dengan fitrahnya. Sikapnya santun kepada orang yang lebih tua, termasuk denganku sebagai gurunya. Tidak suka teriak-teriak serta sudah mulai istiqomah menutup auratnya.

Memang, seperti itulah layaknya perempuan muslimah. Aku tak memberi cap sholelah kepadanya, biarkan saja Allah dan malaikat yang tahu apa isi hatinya.
Baca jugaTrio "RRI", Inspirasi Pelajar Muda Pecinta Tilawah Qur'an

Dan hebatnya, selain berjuang untuk istiqomah, Aulia juga dikategorikan seorang perempuan yang cerdas. Bukan hanya cerdas, melainkan juga pintar. Beberapa kali, aku sering mengganggunya dengan pujian karena ia selalu menyabet title juara umum di SMP.

Jelas, prestasi itu bisa dikatakan cukup hebat untuk sosok perempuan muda yang juga ingin mengejar istiqomah. Di samping itu, Aulia juga tidak mau coba-coba memploklamirkan cinta monyet alias pacaran. Hal ini cukup melegakan, semoga ia terus bertahan di jalan-Nya.

2Lia – Emilia

Emilia Nofitri - Dokpri

Ini sebutan Lia yang kedua. Nama lengkapnya Emilia Nofitri, dan semoga saja kali ini aku juga tidak salah ketik. Hehehe. Beda dengan Aulia, kukenal Emilia baru jelang dua tahun.

Barangkali, Emilia sudah mengenalku lebih dulu, tapi aku telat mengenalnya. Ya, mungkin karena aku populer sebagai guru di SMP. Hihihi. Maaf, deh! Ini hanya persepsiku semata yang lebih banyak praduga daripada unsur nyata.

Kembali ke Emilia. Aku juga ingin menyandingkan ia dengan kata istiqomah, karena perempuan muda yang sudah masuk SMA ini mulai menunjukkan tanda-tanda cinta Islam.

Dulu, saat masih kelas 3 SMP Emilia sering mendatangiku untuk mengulik fenomena-fenomena janggal tentang akhlak, akidah dan syari’at Islam. Beruntungnya, dia penasaran dan mau memaksimalkan kapasitas dirinya untuk menuju jalan yang lurus.

Sampai-sampai, dia punya utang kepadaku untuk setor hafalan Surah Al-Kahf ayat 101-110 yang hingga hari ini belum ia bayar. Hahaha, tidak mengapalah. Kuyakin Emilia sudah hafal, dan jikapun ia lupa, barangkali setelah membaca tulisan ini hafalannya menjadi 10 Juz. Aamiin.
Baca juga: Saat Karir Cemerlang Seorang Perempuan Dihadapkan dengan Pendamping Hidup

Tidak jauh berbeda dengan Aulia, Emilia juga mulai menata hati dan dirinya untuk istiqomah. Di saat teman-teman SMA-nya sudah menjadi budak cinta (BUCIN), Lia tetap teguh dengan kesendiriannya. Dan di saat teman-teman seusianya lepas hijab, Lia tetap kuat hati dengan hijab syar’i.

Jujur saja, aku cukup kecewa dengan mantan murid-muridku yang saat ini sudah lepas hijab. Kenyataan ini seakan menguatkan kita semua bahwa fitnah dunia sudah merajalela. Tambah lagi dengan kegilaan beberapa kaula muda akan K-POP. Sungguh tanda-tanda fitnah dajjal!

Akhirnya, aku punya harapan besar terhadap 2Lia. Harapannya adalah, baik Aulia maupun Emilia dapat menjaga konsistensinya untuk mengejar istiqomah dan menuangkan butir-butir teladan kepada perempuan seusianya.

Tak mengapa jadi inspirasi, asal teladan yang dihiasi. Untuk itu, marilah senantiasa kita berdoa:

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS Al-Fatihah ayat 6-7)

رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا ١٠

"Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". (QS Al-Kahf ayat 10)

Salam.

Posting Komentar untuk "Bercermin dari “2Lia”, Perempuan Muda yang Mencari Kata "Istiqomah""