Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi – Rindu Itu Memanggil untuk Dibalas



Sudah berapa lama?
Sejenak, aku ingin tatap almanak usang tanda rindu 
Rindu yang kabarnya seasing entah ini sebegitunya memanggil kalbu
Jika direnung, rasanya barulah berbelas minggu
Belumlah sampai sewindu

Ingatkah nama Dewantara?
Hari pertama datang, keluhan dasar adalah tentang alas yang terpijak
Debukah, batu gunungkah, pasir lengketkah, semua membuat hati berbidak
Tapi apa daya, hasrat tak selemah hujan yang turun bersama awan tebal
Datang bersama, kenal bersama, semua hanya ingin mengabulkan ihwal

Ingatkah dengan lapangan hijau itu?
Tempatnya tak terlalu indah karena corak warna sudah bergumpal
Tapi! Cumpukan keringat menghadirkan corak gambar bertuliskan “Jaaas”
Tulisannya lebih indah daripada lukisan krayon sang kesal

Ingatkah dengan ruang makan itu?
Di pintu depan selalu saja ada sang bela yang menatap hormat
Aku dan kau berpasangan meluruskan tujuan yang satu
Barangkali hormatnya masih tertinggal, sampailah nada tamat

Ingatkah dengan asrama itu?
Asrama dengan timbunan kertas revisi, bekas tinta asa yang tertindas
Ada pula lantunan semerbak durian yang menghiasi tengah malam
Semua begitu lengkap dengan canda yang bertambah-tambah

Dan, ingatkah dengan LPMP?
Gerbang depan itu selalu berteriak rindu yang berbalas
Aku bisa apa, hanya mengulik kenangan dan mengungkap
Nyatanya semua sudah kita balas dengan kata “Jaaas”

Sudah, kata sudah tak bisa kuteriak sudah
Rindu itu akan kembali dan selalu menuntut balas
Kita hanya bisa berlindung dengan sua
Tiada mengapa, memang rindu itu selalu menuntut balas

 Salam.

Posting Komentar untuk "Puisi – Rindu Itu Memanggil untuk Dibalas"