Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jika Belum Dipertemukan Tak Usah Menangis, Cukuplah Langit yang Mewakili

pixabay.com

Pertemuan adalah hal yang sangat indah bagi sebagian orang, terlebih lagi jika itu adalah harapan lama yang tak kunjung bercita. Bisa tentang teman lama yang tak kunjung bersua, orang spesial yang mau merekatkan janji, atau bahkan orang lain yang ditebak diri sebagai calon jodoh.

Seperti apapun bentuk pertemuan itu, di manapun tempatnya, serta sama siapa saja pasti akan mengundang harap dan rindu untuk segera bertatap muka. Chatting? Tentu saja menarik, tapi bertemu di dunia nyata pasti akan melahirkan rasa yang luar biasa. Tidak bisa didefinisikan.

Orang lain bisa saja menebak itu perasaan grogi, kangen, atau sekadar cari perhatian. Tapi diri sendiri tidak, bahkan bisa saja lebih dari itu! Hahaha

Namun, tidak melulu pertemuan itu bisa terkabulkan. Ada-ada saja halangan yang pertama kita maklumi, tapi kemudian malah kita jengkel dan sesali. Kesibukan kerja misalnya, awal-awal okelah dia sibuk dan aku sibuk. Tapi jika terus bersibuk-sibuk, apakah sampai sebegitunya mengejar uang dan dunia?

Misalnya lagi hujan. Hujan sesekali bolehlah, dua kali tak mengapa, tiga kali aku tetap ikhlas. Tapi jika alasan hujan menjadikan pertemuan itu selalu batal, apakah mau diterima? Ya, mungkin dengan berat hati.

Seperti kisah penulis yang hari ini sudah diumbar janji untuk minum Cappucino. Waktu sudah deal, dia juga sudah mengutarakan kesiapannya. Sudah mau berangkat, tapi ternyata turun hujan deras. Melihat langit, ahh rasanya hujan ini akan bertajuk sampai sore bahkan malam.

Apa boleh buat, mau tidak mau harus dibatalkan. Terang saja, dari pada insan yang bertemu akan sama-sama sakit? Berusaha untuk memaklumi dan mengukus rindu, cukuplah.

Cukuplah Langit yang Mewakili

Mau menangis? Beberapa orang mungkin rela untuk menangis, tapi masa iya harus selemah itu?

Kebetulan hari ini langit mulai menghitam dan hujan berjatuhan. Tak ingin menyalahkan hujan, tapi penulis hanya ingin mengutarakan perasaan layaknya langit yang mendung. Perasaan ikut mendung bersama turunnya hujan.

Mau bagaimana lagi. Kalau situasi sangat mendesak, bisa saja diri ini menabrak derasnya hujan hanya untuk bertemu dia. Tapi, apakah nanti tidak berbekas? Ya, diri ini mungkin bisa sakit walau nantinya sok ngaku “aku sehat, aku baik-baik saja”. Tapi, bagaimana dengan dia?

Ah, daripada menyusahkan dan membuat orang lain sakit, lebih baik dibatalkan. Toh, masih ada waktu untuk mengatur waktu pertemuan esok atau lusa. Masih lebih baik daripada ada hal-hal yang tak diharapkan terjadi.

Kenapa cukup langit yang mewakili? Terang saja, mendung tidak selamanya dan gundah diri tidak terus-terusan bergelap gulita. Akan ada cerah sesudah mendung, dan pertemuan berikutnya adalah kecerahan itu.

Sekarang? tetaplah mencerahkan...

Salam.

Posting Komentar untuk "Jika Belum Dipertemukan Tak Usah Menangis, Cukuplah Langit yang Mewakili"