Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hai Kenangan, Jangan Menghilang! (Sebaris Kisah Latsar CPNS Angkatan 32 Kepahiang)


Gemetar angin berdesir hinggap di pelupuk bayangku. Lewatnya begitu aduhai menyentuh rindu. Rindu dengan pertemuan singkat itu, rindu dengan kegilaan bersama itu, dan rindu dengan keceriaan yang menggunung itu.

Di saat bersama, aku yakin tiada luka yang kembali bernanah. Tiada juga duka yang kembali bermetamorfosa. Tiada pula kesah yang termarginalkan. Bukan semata urusan tua-muda, tapi tentang kekompakan dan penyatuan rasa. 

(Sebelum lanjut baca, ademkan rasa dengan memutar Video berikut)
Bagaimana tidak bersatu, rasa yang tertuang selalu diakhiri dengan kata “Jaaas” dan tersimpul dalam kata “Clear ya!”. Menenangkan pilu, melepaskan debat kusir, dan melahirkan persatuan komitmen.

Awalnya, aku terlampau sabar mendengar teriakan “Jasss” ini, tepatnya di kamar mandi asrama Dewantara nomor 2. Walau kadang teriakannya sunyi karena setrika dipinjam tuan sebelah, tetap saja getarannya merembah hingga ke meja sang resepsionis.

Ini bukan tentang si hanger yang tergantung di dekat koper hitam. Awalnya aku yakin itu adalah inovasi terbaik tularan dari kamar sebelah, tapi ternyata bawa petaka. Akhirnya kami gagal menang saat ada penilaian kamar terbersih. Kecewa?  Mengecewakan iya!

Tapi, kecewa itu segera terhapus saat sang Meloni menebar keharuman dengan sekarung durian. Ini bukan soal tajamnya duri-duri, tapi soal tajamnya senyum yang seakan lebih besar dari tawanya uang lima puluh ribuan. Sontak saja, semerbak durian inilah yang menjadi dalil kita untuk kembali berjumpa.

Dan di saat bumi menumpahkan air matanya, pertemuan antara aku, kami dan kita kembali tanpa sanggah. Biarpun kebasahan, namun keberadaan bersama di Dewantara begitu menenangkan. Soal laptop yang berserakan, gelas-gelas kopi yang kepanasan, hingga keributan tentang iuran, semuanya menyatu dengan lembutnya aspal baru menuju Dewantara.

Pertemuan itu tidak begitu lama, hanya beberapa saat. Namun, setiap kamar seakan berduka karena sosok Makden seakan menjatuhkan harapan kerapian. Ya, kembali lagi ini tentang setrika yang hanya tinggal jejak.

Dari menjelang datang, makan malam, apel pagi, hingga makan siang semua sibuk mengunggah asa. Harapannya, setrika itu ada mendampingi walau hanya sebiji. Cukuplah, untuk sejagat kamar 32.

Terakhir, kisah singkat ini tertutup dengan bias tawa. Bukan sekadar tawa kelegaan karena selesai sempurna dan lulus semua, tapi juga tawa bahagia. Bahagia melihat perjuangan yang selesai. Bahagia menatap visi yang sama, misi yang sama, bahkan jaket yang sama.

Hari ini, aku yakin bahwa visi kita masih sama, misi kita masih sama, dan jaket kita masih sama. Dan mungkin, canda gurau di pertemuan selanjutnya juga masih sama. Masih tentang Ucin, Ujang, Makden, kata “Jasss”, “Clear ya!” serta setrika di Dewantara. Aku yakin semua akan lebih indah dengan banyaknya undangan nikah dan ucapan SAMAWA.

Biarlah bulir-bulir kenangan ini tetap menjadi sesuatu yang indah di dekat kita. Langit cerah, kadang kembali mengingatkan aku tentang serpihan keringat yang jatuh di sebelah sisi topi bergambar bela negara. Tapi, hujan deras juga mengingatkan aku tentang kerinduan, sekaligus berharap agar kebersamaan ini tidak selemah batu yang suatu saat bisa terkikis oleh air mata.

Aku tahu kalian sibuk, tapi aku tak ingin kalian menghilang. Durian boleh hilang, tapi aku bisa pergi ke batang, bahkan membelikannya. Laporan aktualisasi boleh hilang, tapi aku bisa cetak lagi. Namun, kenangan kita tidak boleh sirna.

Tidak mudah untuk mencapai tahap ini, perkenalan ini, kedekatan ini, serta kebersamaan ini. Penghargaannya adalah jangan menutup kisah ini dengan pilu, jangan melupakan, dan jangan menghilang. Karena selamanya kita adalah keluarga. 

Hanya Sebaris Kisah Latsar yang ditulis untuk Angkatan 32.
Salam.

2 komentar untuk "Hai Kenangan, Jangan Menghilang! (Sebaris Kisah Latsar CPNS Angkatan 32 Kepahiang) "