Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sudah Pacaran, Lalu Apa?


Mau Segera Tunangan, Mau Menikah, Mau Putus, Mau Pamer di Medsos atau Mau Selingkuh?

Hmm, jawabannya pilih sendiri ya. Jangan pilih jawaban yang ngena di hati, tapi pilih yang pasti. Terang saja, untuk apa pacaran jika ujung-ujungnya putus. Sekadar pamer dan selingkuh juga tiada berguna, hanya menyakiti hati seorang hamba saja. Benar kan?

Jika sudah bicara tentang pacaran, awalnya pasti bukanlah soal saling pengertian dan memahami. Pacaran dimulai karena nafsu “wah itu ganteng sekali, cantik sekali, pintar sekali, tinggi, putih, rambut lurus,” dan sebagainya. Belum lagi jika ditambah embel-embel “keturunan orang kaya” yang nantinya bisa jadi sumber rezeki kedua. Upps

1-3 bulan kemudian, mulailah cantik dan ganteng itu luntur. Entah karena pernah lihat Si dia tanpa bedak, pernah lihat Si dia baru bangun tidur, atau baru sadar dengan kelakuan minusnya dari orang lain. Lalu apa? Paling-paling putus!

Setelah putus? Cari pacar baru dan setelah beberapa bulan jalan dengan pacar baru, rupa-rupanya teringat mantan. Beberapa kali lihat foto mantan, malahan lebih cantik daripada pacar sendiri. Mengapa? Setannya pindah ke muka mantan. Akhirnya? Putuskan pacar, dan balikan kepada mantan. Huuuhff

Semua terus berulang dengan siklus dan alur yang sama. Memang adapula yang lama pacaran dan kemudian mereka menikah. Tambah lagi dengan persepsi yang berkembang hari ini bahwa bagaimana bisa menikah jika tidak pacaran, maka semakin inginlah orang untuk pacaran.

Dalil ditampiknya. Bahkan, yang hafal dalil larangan pacaran pun segera meninggalkannya. Berusaha melupakan dalil sebagai dalih agar bisa pacaran. Huuufh. Melawan kata hati dan agama bukan?  Tapi apalah daya jika setan sudah merasuki. Berat rasanya meninggalkan pacaran tanpa ada keyakinan diri yang kuat.

Putuskan Pacarmu, atau Halalkan Segera!

Karena pacaran itu bagian dari zina, maka sebaiknya tinggalkanlah. Jika memang berat meninggalkannya, maka halalkanlah. Datang ke rumah orangtuanya dengan kerendahan hati, kejujuran, serta niat yang jelas untuk menikahi Si dia. Jika tidak berani? Ajak teman, atau kalau perlu ajak orangtua.

Terkait dengan soal memutuskan pacar, tidak terpungkiri bahwa sebagian besar orang lebih memikirkan perasaan satu sama lain. Ingin memutuskan sepihak, tapi nanti takut dia kecewa dan memusuhi kita sampai mati. Tapi jika terus dijalankan hubungan haram ini, dosa makin bertambah. Dilema bukan?

Lagi-lagi ini perlu pembicaraan yang baik dan mengarah kepada kehidupan mendatang. Jangan pikir enaknya saja melainkan juga pertimbangkan dengan dosa.
 Pertanggungjawaban di akhirat itu sangat berat dibandingkan sekadar memutuskan komitmen untuk tidak pacaran.

Lebih baik sendiri dulu, berusaha memperbaiki diri, menabung sembari menjemput jodoh. Rasanya tidak terlalu berat. Yang berat mungkin saat teman-teman sudah pada menyebar undangan, sedangkan kita belum. Teman-teman sudah berpasangan saat pergi kondangan sedangkan kita belum.
Solusinya? Ya sudah, kondangan ramai-ramai dengan teman saja. Atau jadi panitia penyambut tamu saja. Haha.
Salam.

2 komentar untuk "Sudah Pacaran, Lalu Apa?"