Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Siapa Lagi yang Menghianati Pengorbanan Kalau Bukan Hamba



Pengorbanan sejatinya merupakan bentuk kesetiaan, kebaktian, serta penghormatan berupa pemberian-pemberian tertentu. Pemberian ini bisa berbentuk apa saja, mulai dari uang, tenaga, bahkan jiwa raga pun rela dikorbankan.

Bukan perkara yang rumit untuk membanding-bandingkan nilai pengorbanan. Semakin besar nilai pengorbanan berarti semakin tinggi tingkat kesetiaan, baik itu kepada seorang sahabat maupun untuk seseorang yang dicintai.

Ada pengorbanan ada harapan, dan ada hasil yang menjadi target. Jika orientasinya adalah material maka uang yang menjadi hitung-hitungan, dan jika orientasinya adalah abstraksi, maka cinta yang menjadi tujuan.

Tapi sayangnya, tidak semua pengorbanan bisa melahirkan cinta dan uang sebagai balasan. Kadang bos tidak peka, kadang sahabat pura-pura lupa, dan kadang pula orang dekat yang melarikan cinta serta menutup kesetiaan.

Sekilas dan seterusnya, ini begitu menyakitkan. Terang saja, semakin tinggi nilai pengorbanan maka semakin tinggi pula pengharapan. Jika tidak sesuai dengan harapan, bahkan jatuh di tempat? Tidak terbayang hancurnya, betapa sakitnya, dan betapa perihnya luka.

Sudah bekerja seharian bahkan lembur, tapi tak kunjung menikah. Sudah beli coklat, ajak makan dan jalan-jalan, belum pula mau serius dan mengajak nikah. Bahkan, Sudah berkali-kali jadi sosok malaikat kepagian, tetap saja tidak sedikitpun menaruh rasa. Berarti? Kecewalah, kecewa.

Berkorban dan Berharap Kepada Manusia? Ahh, Sudahlah!

Ingin saya tekankan bahwa sejatinya pengharapan kepada manusia ada batasannya, dan batasan itu adalah kecewa. Di dekat kekecewaan itu selalu muncul kata-kata tidak mungkin, dan ketika kata tidak mungkin itu keluar dari seorang sahabat maupun sosok yang spesial, berarti itulah batas pengharapan terhadap mereka.

Jika tak kunjung memberikan batasan pengharapan, maka kecewa itu akan datang bertubi-tubi. Masalah fisik, diri ini mungkin yakin masih kuat. Tapi masalah hati? Ahh, sudahlah. Hati itu sudah tidak berbentuk, mau ditambah dengan kekecewaan? Makin hancurlah hati. Entah seperti apa bentuknya nanti.

Jalan terbaik adalah ganti harapan, ganti pengorbanan, dan ganti ungkapan kesetiaan. Kita adalah hamba, orang lain juga adalah hamba. Hamba yang satu tidak bisa mengabulkan harapan hamba yang lain, tidak selalu, bahkan tidak pernah. Ujung-ujungnya pasti kecewa, gundah-gulana dan berkecamuk.

Maka dari itulah, lebih baik kita ganti harapan hanya kepada Allah SWT, Rabb Semesta Alam. Allah yang menciptakan hamba, dan Allah yang memberi kenikmatan terhadap hamba. Berharap kepada Sang Pencipta tak akan mengecewakan, selamanya.

Jika masih merasa kecewa? Berarti terselip harapan kepada hamba. Wajar jika sakit, dan lumrah jika kecewa. Pengharapan kepada Allah tidak akan mengecewakan, tapi butuh keyakinan yang kuat, keyakinan yang dalam.

Makin dalam keyakinan, kita akan makin sadar bahwa berharap dengan seorang hamba itu adalah hal yang tabu. Boleh-boleh saja sebenarnya, tetapi tetap libatkan Allah. Allah akan berikan rasa, dan Allahlah pemberi jalan terbaik, jalan yang lurus.

Lapangkan dadamu, dan tidak ada pengharapan kecuali hanya berharap kepada Allah. (QS Al-Insyirah)

Salam.

Posting Komentar untuk "Siapa Lagi yang Menghianati Pengorbanan Kalau Bukan Hamba"