Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sakitnya Nggak Terlalu, Tapi Malunya itu Loh!

 Tidak Sengaja Terjatuh, Apakah Memalukan?

Tadi pagi, kebetulan ada kejadian tragis namun menarik. Di sela-sela keramaian yang merambah ada seorang perempuan yang terjatuh dari kursi betahnya. Sebut saja namanya Meloni.

Waktu itu sedang ramai, kawula sedang sibuk mengurus urusannya masing-masing, Ya, hari ini sedang ada ujian/seminar aktualisasi. Sejenis laporan kegiatan, namun dipenuhi dengan nilai-nilai ANEKA. Laporannya lumayan tebal, mirip-mirip skripsi namun penuh dengan nilai-nilai profesi.

Saat mengobrol, tiba-tiba saja ada suara aneh namun tidak asing. “Gedeeeeegedeeebuk....!” Semua orang langsung hilang fokus dan mengarahkan pandangannya ke pusat suara. Ternyata dan ternyata, si Meloni yang sedang duduk tersentak jatuh dari kursinya.

Badannya tergeletak di dekat sela-sela siring, beruntung hari itu tidak hujan. Kalau hujan, bisa jadi harus pulang ke asrama untuk sekadar ganti baju. Ujiannya belum, tuh?

Yang lebih hebat, sikap jatuhnya itu loh. Meloni yang tadinya sudah tersungkur bergaya slow motion terlebih dahulu. Mungkin sekitar 5-7 detik terdiam, setelah itu kembali terbangun, ditolong oleh beberapa rekan yang dekat dengan Meloni.

Setelah dilihat, ditatap, dan diperhatikan, ekspresi Meloni tampaknya tidak menunjukkan sakit yang berarti. Artinya, tidak telalu sakit.  Jatuh-jatuh dari kursi, biasalah. Kiranya semua orang pernah mengalami itu, bahkan ada yang sampai terluka karenanya.

Tapi, yang disorot dari Meloni bukanlah tentang sakit atau tidaknya jatuh, melainkan soal malu. Bagaimana jika Anda berada diposisi yang sama dengan Meloni? Jatuh tersungkur dari kursi ditengah keramaian, lalu bergaya slow motion menjelang bangun.

Beberapa rekan ada yang menyebut Meloni melakukan slow motion untuk membuang malu. Terang saja, kebanyakan orang memandang kejadian jatuh ditengah keramaian adalah hal yang memalukan. Bukan bagi orang lain melainkan bagi dirinya.

Meloni bisa saja bertegar-tegar ria, tapi orang lain? Bukan urusan profesional atau tidak, banyak rekan sempat-sempatnya tertawa dan mengganti topik pembicaraannya.

Padahal, itu hanya fenomena wajar yang bisa terlupa dalam beberapa jam saja. Lupanya cepat, tapi kenangannya begitu lengket, bahkan sampai rumah. Hahahaha

Sabar ya, Meloni! Jujur saja, tiada hal berarti yang patut ditertawakan karena suatu saat kita juga akan mengalami hal yang sama. jikapun tidak sama bisa jadi di tempat dan waktu yang berbeda. Nyatanya selama itu adalah kelumrahan, tidak ada satupun hal yang patut untuk ditertawakan.

Sesekali butuh empati untuk meluruskannya. Semakin tinggi empati, maka akan semakin tinggi peduli dan lebih mudah untuk memaklumi. Ketidaksengajaan bukanlah hal bodoh. Itu hanya salah satu jalan untuk menjadi sosok yang lebih tegar.

Malunya Tuh, Di Sini?

Pemahaman ini semestinya diluruskan. Malulah karena perbuatan yang menyimpang, etika yang buruk, serta terlalu tinggi membanggakan diri. Kita hidup di bumi yang sama. Dalam ranah agama, norma, etika, kode etik dan etiket, perbuatan menyimpang tetaplah buruk.

Jadi, malu harusnya dilarikan ke arah yang benar. Bukan berdasarkan penilaian, persepsi dan pandangan orang-orang yang antipati, melainkan tentang keburukan etika.
Salam.

Posting Komentar untuk "Sakitnya Nggak Terlalu, Tapi Malunya itu Loh!"