Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perbaiki Diri, Hari Ini atau Besok Saja?


Semua orang pasti ingin dipandang baik, menjadi baik, dan terkenal karena kebaikan. Meskipun ujungnya adalah kebanggaan, tetap saja perlahan akan ada yang berubah dari dirinya. Entah itu tentang kebiasaan berbicara, bersikap, maupun gaya hidup.

Lagi-lagi ini soal mood diri. Tak terpungkiri memang, saat kita melihat orang baik dan orang itu disenangi banyak orang, kita mau jadi seperti dia. Saat kita melihat orang yang lebih muda lebih terpuji dari kita, kita ingin pula lebih baik darinya.

Namun, dalam perjalanan untuk berubah akan ada rawan sosial di sana yaitu di saat kita merasa sudah lebih baik dari pada orang lain. Akhirnya? Mungkin bisa berhenti karena sudah merasa baik, atau malah makin sombong. Huhh

Belum lagi dengan hinaan teman-teman dan kerabat yang belum hijrah. Mulai dari ternilai sok suci, sok alim, sok baik, hingga menjauh terus memunculkan kata-kata tidak enak hati. Tidak enak kalau berubah, tapi tiada teman. Tidak enak kalau berubah jika dibenci orang lain.

Tapi, bukankah itu hanya rayuan setan semata? Tentu saja.

Kata-Kata “Besok Saja” Selalu Indah

“Besok sajalah, besok saja ah, Hmm besok masih ada waktu!”

Ketika kita mau memperbaiki diri, pasti kata-kata itu saja yang berlarian di kepala. Semua serasa identik dengan menunda-nunda waktu karena keadaan yang masih lapang. Apalagi soal ibadah dan berbuat baik, pasti ujung-ujungnya dikaitkan dengan diri yang masih muda dan umur yang masih panjang.

Padahal, kita tidak tahu kapan akan meninggal, kapan akan sakit, dan kapan kita bisa menjadi orang yang lebih baik bukan?

Bisa saja besok kita meninggal, hingga niat untuk memperbaiki diri hanya jadi kelabu dan angan-angan. Bisa jadi besok kita sakit, hingga perbaikan diri jadi tertunda. Semua penundaan bisa menjadi resiko yang tragis.

Jika Terus Seperti Ini, Kapan Diri Kita Akan Baik?

Tentu kita harus mulai dulu. Hari ini, jangan besok. Sekarang juga, jangan nanti. Saat ini juga, jangan kemudian. Walau kata-kata nanti, kemudian, dan besok itu sungguh romantis dan menghancurkan niat, kita harus tetap harus memulainya terlebih dahulu.

Semua bisa berawal dari hal-hal yang sederhana, bahkan sangat sederhana. Misalnya mengubah urutan kebiasaan, seperti menyapu rumah terlebih dahulu baru nanti menyapu halaman. Mencuci piring dahulu, baru nanti mencuci baju. Atau, memindahkan kamar tidur ke arah lain.

Perubahan-perubahan sederhana yang keluar dari kebiasaan diri biasanya menjadikan mood kita kembali segar. Karena ada rasa yang berbeda, mampir pula kesan yang berbeda dan cenderung positif. Hal-hal seperti inilah yang mestinya bisa kita kaitkan dengan perubahan diri untuk berbuat baik.

Susah memang, karena ini persoalan hati yang nyatanya butuh pembiasaan diri secara terus-menerus. Perbuatan baik adalah bentuk nyata dari kelembutan hati, dan itu harus diasah. Kita hanya tinggal memulainya.
Terpenting, motivasi awal adalah niat yang tulus untuk menjadi baik agar dapat ridho Allah, tidak boleh yang lain. Jika lain, maka bisa tergusur orientasi dari kebaikan itu. Baik supaya terpuji dihadapan orang lain, maka nanti kita bisa terhina. Baik supaya dipandang, akan ada saatnya kita akan dikucilkan.

Ini tantangan besar bagi diri. Intinya, luruskan niat kemudian mulailah. Bismillah.

Posting Komentar untuk "Perbaiki Diri, Hari Ini atau Besok Saja?"